Monday, October 3, 2011

Sejarah Raja-Raja di Sulawesi Utara

Raja-raja Bolaang Mongondow, juga berasal dari keturunan Mokodoludut kerajaan Bowontehu melalui Jayubangkai serta Gumansalangi melalui Meliku Nusa yang menikah dengan Menong Sangiang.

Raja Tadohe anak dari raja Mokodompit raja Bolaang Mongondow dari ibu berasal dari kerajaan Siau yaitu cucu dari raja Lokonbanua II dan Mangima Dampel yang berasal dari keturunan Gumansalangi dari Kotabatu Mindanow Kulano (raja) pertama kerajaan Tampung Lawo dari permaisuri Sangiang Konda Wulaeng (putri khayangan) yang bergelar Madellu dan Mekilla.

Raja Tadohe menikah dengan Rasingan adalah keturunan ke sembilan dari Gumansalangi. Boki Rasingang cucu dari Raja Batahi dari permaisuri Maimunah dari kerajaan Rimpulaeng (Tabukan)bernama Raja Don Franciskus Macaampo Juda I, serta anak dari Hendrik Daramenusa Jacobus. Alkisah ketika raja Mokodompit gugur dalam peperangan, Tadohe masih kecil dan dibawa oleh ibunya ke Siau. Kerajaan Bowontehu serta Kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow diduduki oleh pasukan kerajaan Goa-Tallo.

Pada tahun 1520 kerajaan di Bolaang Mongondow meminta bantuan kepada Raja Batahi untuk membebaskan mereka dari pendudukan kerajaan Goa-Tallo. Kerajaan-kerajaan Sangihe mempunyai ikatan persaudaraan dengan kerajaan Bolaang Mongondow karena berasal dari kerajaan Bowontehu dan juga perkawinan anak-anak raja. Maka raja Batahi memerintahkan palinglima Hengkengunaung untuk menggempur pasukan kerajaan Goa-Tallo. Panglima perang Siau Laksamana Hengkengunaung turun melalui pelabuhan Pehe lewat Sasambo “Lumintu bo’u Pehe tarai ipe sombang endai makawawa Untung”. Maka pasukan kerajaan Goa-Tallo berhasil dikalahkan terus diburu hingga ke Buol-Leok.seperti pernah ditulis beberapa penulis Eropa dan H.M. Taulu. Tak heran H.B.Elias dalam bukunya juga menyebut Siau imperium dalam format kecil.

Keberhasilan pasukan Hengkengunaung mengusir pasukan kerajaan Goa-Tallo, maka semua kerajaan di Bolaang Mongondow harus membayar upeti setiap tahun ke Siau dan kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow harus di pimpin oleh raja Tadohe dan keturunannya turun-temurun melalui kesepakatan bersama. Raja Tadohe melalui Boki Rasingan di karunia anak masing-masing bernama Sadadang,Tendenang, Kaki.

Loloda Daloda Mokoagow adalah cucu dari Raja Tadohe merupakan keturunan ke sebelas dari Raja Gumansalangi Madellu dengan Sangiang Konda Wulaeng dari kerajaan Tampung Lawo. Laloda Daloda Mokoagow adalah raja pertama yang menjadi raja kerajaan Manarow yang berpusat di daratan pulau Sulawesi bagian Utara sekarang disebut Manado,sebelumnya bernama kerajaan Bowontehu/Wawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua). Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow.

Dahulu Kerajaan ini pernah di kuasai oleh suku Bajo dan diserbu oleh pasukan sultan Kaitjil Sibori dari Ternate bersama pasukannya dari Laloda tetapi berhasil dihalau oleh pangeran Meliku-Nusa dari kerajaan Tampung Lawo. Pangeran Meliku-Nusa tidak kembali ke Sangir tapi terus mengembara mengalakan jagoan-jagoan di Bolaang Mongondow kemudian menikah dengan Menong Sangiang putri raja Mongondow.

Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua) sakit karena kekurangan makanan. Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.

Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi.

***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.

Raja Laloda Daloda Mokoagow juga sebagai raja, kemudian kerajaan Manarow/Wenang digantikan oleh Donangbala seorang pendekar ahli pedang karena meiliki pedang sakti. Donangbala adalah keturunan dari Meliku-Nusa dengan Menong Sangiang.Penduduk Gahenang/wenang adalah orang Sangir Talaud sejak kerajaan Bowontehu mulai berdiri dan berkembang menjadi banyak. Kerajaan-kerajaan SaTaS dikenal sejak jaman kerajaan Majapahit disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama sebagai Uda Makataraya, yang berlabu di Tanjung Pulisang kemudian berlabuh di pulau Manado Tua lalu menuju ke Sulu tetapi tenggelam di perairan Sangir. Jadi Manado bukan milik etnis tertentu,dengan dikuasai melalui mengkaburkan/merekayasa sejarah kota Manado yang bermula berakar dari kejayaan Bowontehu kemudian menjadi kerajaan Manarauw(Manado). Tidak ada yang namanya suku Bowontehu ataupun suku Mindanao yang benar adalah suku Sangil atau Sanghi atau Sangi atau sangir Talaud, Manado sekarang ini terdiri dari berbagai etnis yang ada di Nusantara, dan sebagai milik bangsa yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia jadi milik kita bersama.

ARTKEL TERKAIT



3 comments:

Sem Muhaling said...

Boleh dapat info tentang buku-buku referensi bisa didapat di mana? Saya sedang menyusun buku kebudayaan Nusa Utara tapi masih kesulitan untuk mendapatkan lebih banyak buku-buku referensi. Sudah ke perpustakaan propinsi Sulut tapi sangat sedikit kepustakaan tentang masa lalu Sulut umumnya dan Nusa Utara khususnya.

Sem Muhaling said...

Boleh dapat info tentang buku-buku referensi? Saya sedang menyusun buku kebudayaan Nusa Utara, namun masih kesulitan untuk mendapatkan buku-buku referensi lebih banyak tentang masa lalu Sulawesi Utara umumnya dan Nusa Utara (Sangihe dan Talaud) khususnya. Sudah cari di perpustakaan propinsi Sulut tapi di sana sangat sedikit buku-buku referensi terkait. Makasih sebelumnya.

Sem Muhaling said...

Boleh dapat info tentang buku-buku referensi? Saya sedang menyusun buku kebudayaan Nusa Utara, namun masih kesulitan untuk mendapatkan buku-buku referensi lebih banyak tentang masa lalu Sulawesi Utara umumnya dan Nusa Utara (Sangihe dan Talaud) khususnya. Sudah cari di perpustakaan propinsi Sulut tapi di sana sangat sedikit buku-buku referensi terkait. Makasih sebelumnya.